Performance Klub Drama Guncangkan Chandra Wilwatikta

Performance Klub Drama Guncangkan Chandra Wilwatikta

 

Turi Putih… Turi putih…

Ditandur neng kebon agung

Ana claret tiba nyemplung

Mbok ira kembange apa mbok ira kembange apa…

Tembang tersebut sudah tidak asing di telinga kita semua selaku warga SMA Maarif NU Pandaan. Tembang peninggalan walisongo ini membuka penampilan drama kolosal sekaligus menggemparkan panggung Taman Candra Wilwatikta, 07 November 2017 lalu. Siswa-siswi SMA Maarif NU Pandaan kembali menyuguhkan sebuah karya pementasan drama yang disutradarai oleh Bu Emy Zuroidah, S.Pd., dengan mengangkat kisah dari tokoh ulama’ besar Pasuruan, Kyai Abdul Hamid.

Pemeran inti drama kolosal ini adalah M. Sayyid Izzah Mahendra memerankan tokoh Kyai Hamid, Erlita Diah Salsahbila memerankan Nyai Nafisah,  M. Dzunnun Almisry sebagai Kyai Abdullah bin Umar, Silvita Nur Aini Rosma W. sebagai Nyai Raihana, dan Ramadhona Dwi B. sebagai Kyai Shiddiq. Selain itu, pemain figuran yang berjumlah lebih dari 100 siswa yang diambil dari siswa kelas X dan XI. Para pemeran tersebut telah melalui proses casting yang cukup ketat, terutama pemeran inti, mengingat tema yang diangkat terkait kisah hidup seorang ulama’.

Kilas balik drama ini sebelum dipentaskan, beberapa pemain telah berziarah ke makam Kyai Hamid di Pasuruan. Sebagai wujud tawasul dan harapan agar para pemain diberi kelancaran dalam pementasan. Didukung dengan latihan melawan terik matahari yang menyengat. Ucapan syukur, Alhamdulillah, patut kita panjatkan atas kelancaran penampilan Drama Kolosal “Kisah Perjalanan Hidup Kyai Hamid” tersebut.

Tari kreasi karya Bu Su’udiyah Nur Apriliani, dengan latar pemain CG ini dilenggangkan begitu apik oleh siswi SMARIFDA sebagai pembuka drama yang memukau puluhan ribu penonton. Singkat cerita, drama ini berawal dari para santri Kyai Abdullah yang beraktivitas layaknya seorang anak pondok. Melatari percakapan antara Kyai Abdullah dengan Nyai Raihana yang sedang berbahagia atas kelahiran putra mereka yang diberi nama Abdul Mu’thi (nama kecil Kyai Hamid). yang kemudian diganti menjadi Abdul Hamid. Hamid Kecil hidup di lingkungan pondok pesantren milik abahnya.

Suatu ketika, setelah usianya mengnjak remaja, ia diarahkan untuk menuntut ilmu agama lebih banyak lagi di pondok Kakeknya, yakni Kyai Umar, di Rembang. Hingga akhirnya ia bertemu tambatan hatinya yakni Nyai Nafisah dan menikah pada usia 22 tahun. Kehidupan rumah tangga Kyai Hamid dengan Nyai Nafisah tidaklah mulus. Ia mendapatkan berbagai cobaan, yakni anak pertama dan keduanya meninggal dunia di usia yang masih hitungan jari. Akan tetapi, atas keteguhan hati pasangan suami-istri tersebut, Allah menggantinya dengan memberi karunia anak lagi kepada mereka.

Persembahan drama kolosal ini mendapatkan applause yang riuh dari para penonton. Melalui acara semacam ini, siswa dapat melatih mental dan membentuk karakter berani, berkreasi, serta tetap dalam lingkup religi.

By: Nurul Fauziyah Asal,S.Pd.

Related posts

Leave a Comment