Mimpi yang Mulai Suram

Lindap : Selamat Tinggal Sinar.

Karya Intan Dwi Ambarwati

—-

Aku Terdiam menatap lembayung yang merekah menawan. Menjelajahi setiap jengkal angkasa. Burung-burung terbang berhaluan, mulai kembali dari perantauan untuk mencari makanan. Pun awan yang perlahan bergerak, merubah bentuknya. Matahari mulai tumbang. menyerahkan tugasnya pada rembulan.

Jika satu hari ada siang dan malam, mendung dan cerah, pun ada gelap dan terang, berbeda dengan kehidupanku. Dari semua hakikat terang tak satupun aku mengenal  apa itu siang, apa itu cerah, apa itu terang, dan semua yang berwarna.

Aku menghembuskan nafasku beberapa kali. Aku benci, aku benci setiap aku bernafas. Kenapa sulit sekali membuatku mati. Kenapa tidaklah kemarin hariku tak ada lagi. Kenapa hanya nenyisakan aku yang tengah sendiri ditinggal mimpi-mimpi.

Dan kali ini, inilah waktuku untuk kembali menuju rumah sebenarnya. Menyusul mimpi, dan juga mamak yang tersenyum sembari duduk di awan-awan. Seakan berkata selamat datang wahai putra yang kucinta. Melirihkan rasa rindu yang terpendam amat dalam. Mamak, aku datang..

***

“Oi! Aris!”

Aku menoleh dengan cepat setelah mendengar suara lantang khas yang menggema di seluruh Gor. Ia melambaikan tanganya sembari tersenyum lebar menatapku. Langkahnya yang lebar-lebar itu membuatnya lebih cepat menuruni anak tangga, lalu dengan sigap melompati pagar Gor tersebut.

“Amboy! Tampan pula kau ini Aris!”

Ia mendekat, segera memelukku. Menepuk punggungku. Aku yang kaget dengan perlakuannya segera membalas pelukannya, kemudian tersenyum lebar menepuk punggungnya.

“Eiy Paman bisa saja. Bagaimana wajah seperti kecebong berak ini bisa disebut tampan?”

Paman tertawa mendengar gurauanku. Mengibaskan tangannya, menyanggah perkataanku.

“Jangan merendah Aris. Oi! Lihat saja, Tubuhmu makin gagah, dan eh syahdan!” Dia memanggil Pria disampingku,  menunjuk wajahku dengan maksud memperlihatkan apa yang tengah dilihatnya. “garis wajahmu tegas, badanmu tegak. Macam orang arab tersasar kau disini.”

Aku tertawa. Pamanku itu pandai sekali bercanda. Paman lagi-lagi mengibaskan tangannya, masih tertawa akibat gurauan yang tidak terkira gilanya. Aku kembali menggeleng. Kemudian mulai melanjutkan latihanku yang tersendat beberapa menit barusan. Mengambil ancang-ancang untuk berlari seperti latihan tadi.

Aku berlari dengan diteriaki Paman Zakir di belakang. Menyemangati.

“BISALAH ARIS! BERLARILAH MACAM MACAN! JANGAN BERLARI MACAM BEBEK KECEBUR SELOKAN! GEMULAI SANGAT!” Suara bisingnya semakin tidak jelas sebab aku yang mulai fokus pada kecepatan lariku. Namun, entah kenapa, tiba-tiba kakiku terasa nyeri. Kecepatan lariku perlahan mulai melemah, alhasil kupelankan laju lariku, kemudian berhenti di tengah-tengah lintasan GOR.

Aku meringis memegang betis kananku, terasa nyeri yang luar biasa hebat. Paman Zakir segera menghampiriku bersama pelatih. Tampang mereka bingung-namun entahlah, aku tidak bisa menafsirkannya lebih jelas.

Dengan perlahan aku menggerakkan kembali betis kananku. Namun, semakin kugerakkan semakin terasa hebat pula nyeri yang kurasa. Aku terduduk, meluruskan kaki sambil masih memegang betis. Mencoba duduk dengan kaki selonjoran, menahan ngilu dan nyeri dalam satu waktu. Kupikir ini kram tersakitku. Belum pernah aku merasakan seperti ini. Mungkin ini akibat tadi terlalu cepat aku memulai pemanasan.

Beberapa saat setelahnya, pereda nyeri di semprotkan, aku hanya mampu menghela nafas. Tidak lagi, aku tidak akan menyerah untuk kesekian kali. Nyeri ini tidak akan membuatku berhenti. Mimpiku lebih tinggi, pun lebih besar daripada rasa sakit di kaki.

Paman menepuk bahuku, tersenyum tulus menatapku. Dia menganggukkan kepala lantas berkata hal-hal yang menggugah kembali semangat di dada. Namun, di akhir kalimatnyalah yang membuat semangatku kembali mengobar.

“Aris, jika itu menyakitkan, perlahan saja, jangan dipaksakan. Semua akan baik, jangan terlalu ditekan. Kau, bujang kebanggaan Bapak, juga Paman.”

Kali ini aku mulai berlatih ringan, menunggu pelatih yang masih ada urusan. Tentang betis yang kebas itu, kurasa masih tetap terasa sakit walau sudah dua minggu semenjak kunjungan Paman Minggu lalu. Bahkan aku yang tadinya tidak terlalu mencemaskan rasa sakitku, ogah-ogahan saat diperiksa, berkata baik-baik saja saat mereka bertanya, kini ikut merasa cemas.

Betisku sedikit bengkak, dan terasa amat sakit saat malam hari. Meskipun terkadang rasa sakitku menghilang-walau hanya sebentar- namun tetap saja, ini tak seperti biasa.

Adalah hari ini kali pertama setelah jatuh di tengah lapangan. Dua minggu semenjak  Paman berkunjung. Aku kembali memulai latihanku yang terhambat. Mencoba melatih kembali kemampuan fisikku bersama pelatihku. Kecepatan lariku sudah Kumaksimalkan, seluruh kemampuan ku keluarkan. Namun, berbeda dengan Pelatih. Ia Segera berteriak. mengomel sebab perolehan waktuku yang melambat. Tidak secepat minggu-minggu lalu. Kuterima semua omelannya, dan ocehannya yang sungguh menghabiskan tenaga. Lagipula, aku juga merasa seperti itu. entah kenapa fisikku mudah lelah, dadaku juga sering sekali sesak, membuat nafasku kembali tak kuat. Apalagi ditambah dengan nyeri kaki yang sering datang.

Aku meminta waktu istirahat sebentar.  Merasa jika dipaksa sepertinya nasibku kembali terulang-seperti minggu lalu. Pelatih menghampiriku, Menanyai keadaanku. Aku  membungkuk, kembali mengatur nafas.

Aku tak menghiraukan ucapannya. Pun tak mendongak membalas tatapannya. Aku masih menatap rumput dibawah. rasa-rasanya rumput itu seperti bergerak, menari-nari di pandanganku. Hingga Kepalaku tiba-tiba pusing, badanku terasa lemas, lalu nafasku kembali menderu. Lalu entah kenapa,  badanku terasa lemah, dan nyeri itu kembali mendera. Kali ini aku tak kuat menahannya. Tak terasa, aku limbung, pandanganku kembali samar, sinar putih itu datang.

Aku terbangun di ruangan berwarna putih. Kejadian itu samar-samar teringat di memori. Aku menatap keseluruhan ruangan. Beberapa saat yang kulakukan hanya diam, mencoba bersikap tenang, mencoba tertidur dalam diam.

Pintu berderit. Masa senyapku hilang. Aku mengerutkan dahi, sedikit kesal karena rasa kantukku terganggu. Namun, aku dengan cepat menyesuaikan keadaan, kembali mengkonsentrasikan pikiran. Agar kantukku cepat datang. Karena hanya tidur yang membuat rasa sakit di betis dan dada ini sedikit menghilang.

“Aris..”

Demi mendengar suara itu, mataku terbelalak. Ini bukan suara pelatihku atau Paman Zakir. Suara serak yang khas ini.. aku sangat mengenalinya.

“Aris!”

Dia segera menghampiriku, begitupun aku, Segera menoleh kearah ambang pintu yang kini berdiri dua pria yang amat kukenal. Lantas, dengan cepat ia memelukku. Aku sempat kaget. Bapak menangis. Di depanku, dan sedang memelukku.

“Bapak.. Rindu kau nak. sungguhh.. Amat rindu dengan anak bapak yang keras kepala ini” ucapnya terbata-bata. “Aris.. Apakah sakit nak? Sesakit apa? Boleh Bapak ikut merasakannya? Nak, Jika boleh ditukar, biarkan bapak saja yang menanggung semua sakitmu, nak. Biarkan Bapak saja..”

Bapak tetap memelukku. Berkata dengan nada yang sangat terisis. Memilukan, pun menyakitkan jika di dengar. Aku mengangguk, mengelus punggung bapak yang berguncang sebab tangisannya. Berkata dengan lirih semua baik-baik saja, dan tak sesakit yang dibayangkan. Bapak menatapku, mengelus pipiku. Aku tersenyum lemah, mengangguk pelan, menunjukkan semua baik-baik saja, dan tetap akan baik-baik saja.

Namun, belum genap anggukanku, masih manis senyumanku. Dalam hitungan detik semuanya berubah. Persis saat pria berseragam putih itu menyampaikan langsung detail keadaanku. Berkata dengan lirih dan penuh penyesalan sebab telah menyampaikan berita buruk padaku.

Semenjak itu, duniaku kelam. Anganku memudar. Entah setan apa yang merasukiku. Aku tak peduli dengan siapa aku bertutur kata, juga bersama siapa aku disana. Setiap kalimatnya sungguh meluluh lantakkan perasaan, memporak porandakan pikiran. Hatiku menghitam, mataku kelam, pun jantungku mencelos dan berdebar tak karuan.

“Sungguh amat menyesal aku menyampaikan hal ini, apalagi teruntuk kau Aris.”

Aku menoleh menatap ia dengan raut bingung-karena dia tahu namaku. Kontras dengan raut wajah menyesalnya-juga raut wajah sedih milik Bapak dan Paman Zakir.

“Kram di betis kau itu bukanlah gejala biasa akibat kurangnya pemanasan saat berolahraga, Aris. Kau tahu ini, Aris?” Ia menunjukkan selembar hasil Rontgen padaku, menunjukkan seberkas warna putih di sana. “Aku kira ini hanya cahaya. Aku yakin, Kau tahu apa maksudku”

Aku memandangnya pias, wajahku yang pucat menjadi lebih pucat. Aku mengerti arah pembicaraan ini. Dan ini lebih dari sekedar hal buruk. Ini benar-benar buruk.

“Osteosarcoma, Aris. Seharusnya aku lebih teliliti memeriksamu seminggu yang lalu. Aku rasa kanker ini sudah menginfeksi paru-parumu Ris. Aku yakin beberapa hari lalu kau sulit bernafas. Jangan kau sangka hal itu bawaan waktu kecil kau terkena infeksi paru-paru ris. Dan hal inilah yang paling kutakutkan. Sudah menyebar ris, maafkan aku.”

Selesai kalimat terakhirnya emosiku memuncak. Darahku memanas. Segera aku melompat dari ranjang. Tak peduli dengan rasa sakit yang menyergap, pun dada yang semakin sesak. Yang ingin aku lakukan hanya menyerang-kalau bisa kucekik sampai mati- dia. Meluapkan semua amarah yang ada.

“BAJINGAN KAU!!”

“TAK USAH JADI DOKTER KAU, ANJING!!”

“BANGSAT!!”

Seluruh umpatan ku lemparkan padanya. Hasratku ingin menghajarnya berada di titik paling atas. Kalaupun bisa, aku akan mencekik lehernya sekarang juga. Namun, tubuhku sepertinya memberontak. Dadaku kembali sesak-kali ini sangat sesak. Pun betisku terasa sangat menyakitkan, beribu-ribu menyakitkan. Seperti dihujam paku berton-ton. Ngilu, nyeri, hingga rasa sakit yang letaknya dipuncak; Mati rasa.

Pandanganku mulai kabur. Badanku melemas, tak lama tubuhku terjatuh. Lantai ini terasa amat dingin. Dan aku.. telah siap. Aku siap bila hari ini aku menemui mamak. Aku siap, bila hari ini malaikat menyusulku. Pun aku telah siap terbang menari-nari di awan tanpa harus berlari-lari dilapangan. Hingga semua bersinar. Sinar putih itu datang-yang kali ini membuatku tak kenal dengan sinar.

****

Aku memandangi jendela. Lembayung itu merekah. Memberi warna di berbagai angkasa, seperti saputan kuas pada kanvas. Elok di pandang, pun sedak di tampakkan.

Namun, berbeda denganku. Aku menatapnya penuh kebencian.Aku benci hidup. Aku sungguh benci walau hanya sekedar bernafas. Bahkan setelah menonton lomba lari di poonsel itu benciku semakin membesar. amat sangat besar. Dengan hati yang penuh amarah, dan rasa yang membuncah. Aku mulai merangkak menuju jendela.

Tanganku terulur menuju jendela kaca besar. Hendak berdiri. Kemudian terjun melayang. Aku tersenyum memikirkannya.  Ah, bayanganku terlalu dalam jika itu yang kurasakan. Dan inilah saatnya, mamak aku datang..

“Aris!”

Adalah Paman Zakir yang meraih tubuhku. Menyeretku menjauh dari jendela kamar Rumah sakit berlantai lima belas itu. Lantas memelukku erat seakan tak ingin aku bergerak seinci pun.

Topiku terjatuh, memperlihatkan kepala plontos milikku. Kali ini aku memberontak, marah karena keinginanku tak tercapai walau hanya sejengkal tangan saja. Menggeram bak banteng yang terluka.

“ARIS! KAU DENGAR AKU!”

Aku tetap memberontak, mencoba melepaskan diri lantas segera melompat jendela. Biar! Biar mati sekalian. Derita yang kurasakan. Perpisahan dengan sinar. Berkata selamat tinggal pada mimpi-mimpi yang hendak kucapai. Dan semua kesakitan yang merengkuh jiwa, tetap ingin tinggal.

“KAU DENGAR AKU, ATAU KUPANGGIL BAPAK KAU LANTAS KUBUNUH KAU DIDEPAN DIA, ARIS!”

Demi mendengar ucapan Paman Zakir, aku terdiam. Tergugu sedetik, mencernanya kemudian memilih mendengarnya.

“Aris, sungguh. Sadarlah! Sebegitu bencinya kau dengan kehidupan, sebegitu menginginkannya kau pada kematian. Jangan kau memilih untuk menjemputnya sendiri. Ingat mamak kau Ris. Mamak kau sungguh mencintaimu, amat sangat menghargai kehidupan kau hingga ia rela mati demi kau Ris. Ingat dia sebagai pengganti kekosonganmu. Aris, tak ingatkah kau pada pesannya? Nasib elok akan menimpa kau seburuk apapun keadaan kau, Ris. Hakikat menerima. Terima lah ris. Kau akan tentram jika menerima, hatimu akan terasa lapang jika kau mengerti sebuah kenyataan.”

“Terima, Ris. Biarkan semua mengalir dengan semestinya. Jangan terlalu memaksakan. Bukankah pernah ku bilang? Jangan dipaksa jika itu menyakitkan.”

Aku hendak menyanggah ucapan Paman. Dia memang tak mengerti apa yang kurasakan, makanya seenak jidat menyuruk menerima kenyataan.

“Jangan dipotong dulu ucapanku, aku tahu kau ingin bilang kalau aku tidak mengerti perasaanmu ris. Paman Paham, sungguh paham. Diluar sana ris, banyak orang yang menderita lebih dari kau ris. Mereka bahkan berpisah dengan orang-orang mereka kenal. Orang-orang yang mereka sayang. Namun, kenyataannya, mereka tetap tegar menjalani kehidupan. Ayolah Ris, lihat Paman. Sinarmu mungkin tlah hilang, tapi semangatmu tak akan pudar. Bintangmu mungkin tlah sirna, tapi masih banyak bintang-bintang penerang.”

“Lihatlah Bapak kau Ris.”  Dia menatap ambang pintu. Disana Bapak berdiri dengan pipi basah karena air mata. Kupikir,  Akhir-akhir ini bapak  sering menangis melihatku. Sering terluka menatapku. Dan aku menyesali itu.

“Kaki kau yang buntung satu sebab kanker itu bukan jadi masalah. Perpisahan dengan mimpi mungkin amat menyedihkan, terlalu menyedihkan setelah melihat kau begitu mencintai mimpi itu. Hilang sudah cahaya, musnah sudah harapan-harapan indah, telah sirna semangat yang menggelora.”

“Tapi, dengarkan pamanmu Ris, Sinar kau masih ada disana, ia berdiri menangisimu Ris. Bangkitlah nak, semangatlah”

Kalimat terakhir paman seakan mendobrak pintu hatiku. Mulai meluluhkan hati yang membatu, lantas mewarnai tatapan kelamku. Kali ini aku sadar, hakikat menerima yang dikatakan mamak. Bukan perihal mengetahui lantas berdiam diri. Hakikat menerima sejatinya mampu berdiri walau hati sering tersakiti, mampu bangkit dengan semangat mengobar kembali, lantas berlari walau sebongkah hati kita dibawa pergi oleh yang mati.

 

——

Biodata Narasi.

 

Namaku Intan Dwi Ambarwati. Biasa dipanggil Intan. Namun lebih sering dipanggil Umi(panggilan dari teman-teman SMA), dan berada di dunia sejak 04 Juli 2000.Aku hanya gadis biasa yang tidak suka Matematika –padahal anak IPA- dan mempunyai ketertarikan terhadap Bahasa.

Jika kalian ingin lebih mengenalku, follow saja akun Instagramku @itndw47.

Related posts

Leave a Comment