Khotmil Qur’an & Istighosah

Khotmil Qur’an & Istighosah

Bukan Sekadar Agenda Rutin Tahunan

“Berdo’alah kepada Tuhan-mu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang malampui batas”

( QS Al a’rof : 55 )

Al Qur’an adalah mu’jizat aqli yang diberikan pada nabi terakhir untuk disampaikan kepada seluruh makhluk sebagai rahmat dan petunjuk dalam mengarungi kehidupan ini. Terlebih Qur’an tidak hanya berisi sejarah, syariat tetapi juga kumpulan doa-doa sebagai intisari dari ibadah. Karenanya doa adalah gambaran nyata dari penghambaan kita kepada  Allah. Dengan doa, seorang makhluk berkomunikasi dengan Sang Khaliq. Melalui doa pula, seorang hamba mengakui kelemahan dan ketidak berdayaannya di hadapan Allah SWT Yang Maha Kuasa atas segala kuasa.

Namun sepertinya ada anggapan yang kadang membuat kita salah dalam menempatkan doa itu sendiri. Bahwa kita berdoa hanya pada saat-saat kita sedang menghadapi sebuah peristiwa penting atau ketika sedang mengalami musibah seperti sakit atau sedang berduka, kalau dalam pendidikan disaat ada ujian. Pada saat-saat seperti itu seakan-akan kita begitu khusuk memanjatkan doa, bermohon dan bermunajad kepada Allah SWT. Sedangkan pada saat-saat biasa dan yang sering kita alami sehari-hari doa yang kita panjatkan tidak lebih hanyalah rutinitas tanpa rasa tawadlu’ atau bahkan hanya sebagai pelengkap ritual, atau juga sebagai penutup acara.

Ada istilah lain yang sering kita dengar yang sejenis dengan do’a yakni istighosah. Namun sebenarnya peruntukan dari kedua istilah tersebut sedikit berbeda. Do’a lebih mengarah kepada hal yang bersifat umum, sedangkan istighosah mengandung makna khusus menyangkut permohonan agar dihindarkan dari musibah. Jadi antara keduanya terdapat makna umum dan makna khusus yang mutlak, artinya setiap istighostah adalah do’a namun sebaliknya setiap do’a belum tentu masuk kategori istighostah.

Sebagai contoh dalam dunia pendidikan ketika menjelang ujian nasional banyak sekolah yang menyelenggarakan “istighosah” massal yang melibatkan seluruh siswa peserta ujian nasional, guru, bahkan orang tua siswa.

Ada satu pertanyaan yang perlu dikritisi dalam konsteks ini yakni apakah ujian nasional itu memang telah dianggap sebagai musibah yang mengancam keselamatan siswa atau bahkan lembaga pendidikan (baca: sekolah)? Padahal bukankah ujian nasional atau apapun namanya itu tak lebih hanyalah sebuah alat ukur untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran yang telah diterima? Jadi, bukankah itu sebenarnya hal yang biasa saja?

Dalam konteks ini Istighosah —disadari maupun tidak— hanya difungsikan sebagai kegiatan yang bersifat pragmatis belaka, dan bukan sebuah peristiwa religiusitas atau hubungan kemesraan antara Allah dan hamba-Nya. Sungguh hal yang menggelisahkan jika hal ini terjadi.

Melihat fenomena seperti ini SMA Maarif  NU Pandaan tidak ingin menempatkan Istighosah sebagai ajang rutinitas tahunan atau pelengkap akhir sanah bagi siswa-siswi kelas XII IPA-IPS dalam menghadapi ujian nasional.  Karena rangkaian seperti ini merupakan kombinasi dari setiap kegiatan religius yang diadakan sekolah mulai dari khotmil qur’an, santunan ke Yatim Piatu dan diakhiri sosialisasi UNBK kepada wali murid dan ditutup dengan doa bersama.

Khotmil Qur’an dari setiap siswa diwajibkan untuk membaca dengan harapan mendapatkan keberkahan dari setiap huruf yang dibacanya, sebagaimana disampaikan Rasululah SAW yang artinya “hiasi lisanmu dengan ayat-ayat Qur’an”. Karena yang diharapkan sekolah adalah tidak sekedar sukses dalam ujian nasional tapi lebih dari itu sukses pasca ujian nasional atau ketika mereka sudah lulus dari sekolah.

Tantangan hidup ini sangat luar biasa menghadapi era globalisasi dan pasar bebas, selain persiapan ilmu pengetahuan, tidak kalah pentingnya kedalaman spiritual agar hidup lebih terarah dan tidak mudah tertipu oleh bujuk rayu syaitan. Untuk itu, SMA Maarif NU Pandaan mempersiapkan dengan sebaik mungkin dengan aktifitas keagamaan sebagai motifasi bathiniyah sebagai bekal di masyarakat.

Demi tercapainya cita-cita yang luhur, marilah kita ganti mindset kita tentang makna pendidikan (termasuk Ujian Nasional) itu terutama kepada para anak didik kita agar kelak terbentuk pribadi-pribadi yang ahsani taqwim, makhluk yang hanya mencintai dan meletakkan Allah SWT dan Rasul-Nya di hati mereka. Jangan sampai istighosah hanya menjadi kegiatan fenomenal setahun sekali yakni pada saat menjelang ujian nasional, dan itupun dalam hitungan untung rugi. Kita hanya menjadi pihak yang meminta saja dalam kemasan instan.

Marilah kita selalu mengingat Allah tidak pada saat kita “berduka” dan ketika sedang menghadapi “peristiwa” berat saja. Marilah kita patri Allah SWT dalam hati kita agar kita menjadi hamba-hamba Allah yang ahsani taqwim. Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

By: Dian Ardianto, M.Pd.

 

Related posts

Leave a Comment