Cerpen

Surat untuk Presiden

By: ERLITA DIAH SALSAHBILA (XI IPA 5)

“Aku yang dulu bukanlah yang sekarang

Dulu disayang sekarang ku ditendang

Dulu dulu dulu dulu ku pendiam

Sekarang hancur berantakan”    

Itulah lagu andalan yang aku nyanyikan dengan kencreng sederhana yang aku buat sendiri dengan tutup botol minuman. Bisa dibilang lagu tersebut mencerminkan kehidupanku yang kasat mata, yang tak banyak orang tahu tentang hal tersebut. Dan tak banyak juga orang yang peduli. Bahkan orang-orang terdekatku. Mereka tak akan peduli sehari ini aku makan atau tidak, minum atau tidak. Bahkan jikalau aku minum air seniku sendiri karena saking hausnya sungguh aku jamin mereka tak akan peduli. Mereka hanya peduli pada setoran yang aku bawa. Jika banyak, maka aku akan dapat jatah makan. Jika tidak, maka cambuklah jatah makan malamku. Sungguh mata orang zaman sekarang sudah gelap karena uang dan jabatan. Segelap kulitku yang terpanggang sinar matahari sepanjang hari.

Hari ini senin pagi, suara sumbangku masih terus menemani dan terdengar nyaring karena memang tenggorokan ini belum begitu kering dan lecet. Seperti kata Pak Bos, aku tak boleh berhenti bernyanyi sebelum tenggorokanku sobek dan pita suaraku rusak.

Senin pagi adalah hari favoritku. Di mana aku melihat anak-anak sebayaku berangkat sekolah dengan menunjukkan barisan gigi putihnya. Aku melihat mereka dengan perasaan ingin berangkat ke sekolah juga. Tetapi apa dayaku. Pak Bos menghendakiku untuk terus mengencreng di Lampu merah. Tak sadar, kaki ini ternyata berjalan mengikuti mereka yang berseragam merah ptuih. Samar-samar, ku dengar mereka berbicara tentang pelajaran yang menyebutkan pejabat. Yah pejabat! Tetapi, bagiku mereka justru penjahat yang membiarkanku tetap seperti ini.

Pilihanku pagi ini adalah perempatan jalan, di bawah lampu merah, kuning, dan hijau. Karena berdasarkan teori Pak Bos di bawah lampu inilah jatah makanku akan istimewa, bukan cambuk dan caci makian. Setiap pagi Pak Bos selalu bilang bahwa setoran yang harus aku serahkan adalah dua puluh lima ribu rupiah. Tak boleh kurang! Kalau kurang bisa dibayangkan akibatnya. Cambuk akan melesat cepat dipunggungku. Kata-kata tak beradab akan meluncur cepat layaknya roller coaster ditelingaku. Tetapi, kalau yang ku bawa lebih dari dua puluh lima ribu rupiah, maka jatah makanku adalah nasi dengan krupuk serta bonus kecap sebagai penambah rasa.

Seperti kata Pak Bos aku harus terus bernyanyi tak peduli tenggorokanku kering bahkan tenggorokanku robek. Mereka tak peduli, yang terpenting setoran yang aku bawa harus sesuai dua puluh lima ribu rupiah. Aku mulai bernyanyi dari ayam berkokok sampai langit berhias bintang. Bayangkan saja! Cari duit cuma bernyanyi di bawah lampu merah harus dapat dua puluh lima ribu rupiah, sedangkan orang-orang berada dengan kendaraan mereka jarang peka terhadap kehadiranku. Seolah aku hanya angin lewat yang tak perlu dipedulikan dan tak perlu dihiraukan. Mungkin mata hati, perasaan, dan jiwa sosial mereka telah dibutakan dengan jabatan dan uang. Tetapi, tidak semua orang seperti itu. Terkadang ada orang yang sedikit melirikku dan memberikan koin lima ratus perak mereka kepadaku. Sungguh orang seperti inilah yang menjadi angin sejuk untukku.

Malam ini hujan deras mengguyur kota. Hujan menghambat kinerjaku untuk mengumpulkan koin demi koin. Padahal uang dalam kantongku masih belum cukup untuk dibawa pulang. Kalau seperti ini Pak Bos bisa memuntahkan semua amarahnya. Tetapi apa hendak dikata hujan semakin lebat. Aku bisa masuk angin kalau tetap berada dijalanan. Dan bisa-bisa besok aku tidak akan bisa pergi mengamen. Itu malah kemungkinan yang jauh lebih buruk. Pak Bos malah bisa semakin marah kepadaku. Maka aku pilih untuk kembali pulang dan bersiap menghadapi kemarahan Pak Bos.

Malam ini tanganku bergetar cukup kencang. Langkahku juga sangat berat. Aku kembali menghitung berapa uang yang berada dikantongku. Jumlahnya masih tetap sama yaitu lima belas ribu rupiah. Jantungku semakin berdegup kencang, ketika dari jauh kulihat sosok Pak Bos. Perkiraanku tak melesest sama sekali. Belum sempurna aku masuk dalam markas Pak Bos telah menerikiku. “Hei, kau! Cepat kemari.” Jantungku masih berdegup dengan kecepatan penuh sampai mau copot rasanya. Kakiku semakin bergetar. Lidahku kelu. Mulutku terkunci. Tenggorokanku berusaha menelan saliva. Belum sampai tertelan sempurna Pak Bos telah mengulang panggilannya. “Hei, kau! Cepat kemari. Apa kupingmu tuli ha?!”. Aku bergerak patah-patah seolah kakiku tak punya tulang lagi. Hanya  tinggal seonggok daging tanpa penyangga. Jarakku semakin dekat dengan Pak Bos. Nafasku menderu. Peluhku berkucuran dengan deras. Sederas hujan malam ini.

Perkiraanku tak meleset sama sekali. Malam ini Pak Bos menghajarku dengan penuh kebencian. Aku babak belur ditangan Pak Bos. Teman-teman lain hanya menatap miris tanpa bisa membantu. Pak Bos tak pernah lagi memperlakukanku layaknya anak kandungnya. Perlakuan Pak Bos kepadaku sama seperti perlakuannya kepada anak-anak lain. Siapapun yang berbuat salah maka bersiaplah untuk menerima hujaman cambuk dan kucuran kata-kata tak beradab. Padahal dalam darahku mengalir juga darah Pak Bos. Tetapi Pak Bos tak peduli dengan hal itu.

“Yah, aku ini anakmu.Tetapi, kenapa Ayah memperlakukanku seperti ini? Ayah tidak sayang sama aku?” Tanyaku pada Ayah dengan bibir gemetar dan menahan rasa sakit tubuhku.

“Diam, Kau!” Bentak Ayah.

Sejak saat itu, Pak Bos tak pernah lagi memperbolehkanku memanggilnya dengan sebutan Ayah. Mungkin dia sudah tidak mengganggapku sebagai anak, tetapi sebagai anjing peliharaan yang bisa disuruh seenaknya dan bisa dimaki semaunya.

Ayahku tak hanya mempekerjakan aku sendiri. Ayahku dan teman-temannya mencari anak jalanan lain untuk dijadikan anak buahnya. Anak jalanan tersebut diberikan janji-janji manis. Layaknya janji calon pemimpin yang sedang berkampanye. Tetapi, setelah bergabung bukan hal manis yang mereka terima, melainkan hal yang sebaliknya. Anak-anak tersebut dipaksa untuk pergi mengamen dan mengemis. Sedangkan Ayah dan teman-temannya hanya duduk santai di markas dan menunggu uang datang dengan sendirinya. Namun, apa hendak dikata, siapapun yang telah menjadi anggota di markas ini tak diperbolehkan untuk keluar. Coba saja kalau berani, Ayahku akan menghajar jauh lebih keji dari biasanya.

Setelah mendapatkan setoran dari anak buahnya yang bekerja dari ayam berkokok sampai langit berhias bintang dan bulan, Ayah dan teman-temannya akan berangkat ketempat mereka berjudi. Mengonsumsi ganja, dan minum bir sampai hilang kesadaran.  Saat masih belum puas Ayah dan teman-temannya akan membeli wanita pelacur untuk menemani mereka melampiaskan nafsunya. Jangan tanyakan Ibuku kemana. Karena sungguh itu akan menjadi kenangan yang sangat menusuk ulu hatiku. Ibuku meninggal dua tahun lalu karena minum racun tikus. Ibuku merasa tidak tahan dengan kelakuan Ayah dan memilih mengakhiri napasnya. Saat dulu Ibuku masih ada nasibku tak seburuk ini. Aku masih bisa merasakan pakai seragam sekolah dan duduk dibangku sekolah. Tetapi setelah Ibuku pergi aku tak bisa lagi merasakan sensasi pergi ke sekolah bersama teman sebayaku. Aku rindu sekolahku. Tapi sungguh aku jauh lebih rindu Ibuku.

Ayahku juga tega menyewakan Adikku yang masih berusia tiga tahun. Ayah menyewakan Adikku pada ibu-ibu pengemis yang butuh balita untuk menarik simpati orang lain. Ayahku berpikir menyewakan Adik jauh lebih menguntungkan. Karena Adikku masih belum bisa untuk pergi mengamen ataupun mengemis.

Hari ini aku menyanyi dan memainkan kencrengku. Meski aku tak paham masalah nada, tempo, dinamika atau apapun istilah lain dalam bernyanyi, aku tetap mengalunkan lagu-lagu yang pernah aku dengar. Entah itu lagu tentang jatuh cinta, putus cinta, ataupun tema lagu lainnya. Aku tak peduli yang penting orang-orang mau menyisihkan koin mereka untukku. Karena itulah alasanku berada disini. Atau lebih tepatnya alasan Ayahku menempatkanku di tempat ini. Tempat yang tak kuinginkan. Nasibku memang tak seberuntung anak-anak sebayaku. Menikmati masa-masa sekolah. Berkutat dengan buku, PR, ulangan ataupun hal lain yang menjadi tugas anak sekolah. Nasibku berbeda seratus delapan puluh derajat. Aku harus memegang kencreng bukan pensil. Aku harus berkejaran dengan lampu yang akan hijau bukan  PR ataupun kuis. Aku harus membaca keadaan apakah Satpol PP akan datang, bukan membaca buku pelajaran. Inilah aku dan kehidupanku. Entah sampai kapan aku seperti ini. Apakah aku harus bertahan? Atau malah sebaliknya. Apakah aku harus berontak? Entahlah itu hanya tinggal menunggu kapan akan tiba saatnya.

Aku pernah mendengar bahwa negara ini memiliki lembaga perlindungan anak. Tetapi setelah bertahun-tahun aku menjadi anak jalanan tak pernah aku mendapat kontribusi lembaga tersebut. Bukankah kehadiranku dan anak-anak jalanan lain telah nampak jelas di negeri ini? Ini karena mereka buta atau memang tak mau melihat? Bukankah anak-anak seperti aku dan teman-teman seperjuanganku merupakan  harapan masa depan bangsa? Tetapi mengapa keberadaanku dan teman-temanku seolah tak diperhatikan? Malah sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Betapa anehnya negeri ini para pengedar narkoba dan pemakan uang rakyat diselamatkan, tetapi anak-anak jalanan yang butuh perhatian seolah luput dari daftar orang yang harus diselamatkan.

Suatu hari aku pergi mengamen dari pagi hingga malam. Tetapi tak sepeserpun uang yang ada dikantongku. Saat jam telah menunjukkan aku harus kembali ke markas perasaanku semakin tak karuan. Aku takut Ayah akan menghajarku. Aku berpikir cepat. Akhirnya aku memutuskan pulang. Daripada Ayah berpikir aku kabur itu malah hal yang jauh lebih membahayakan. Dalam perjalanan kembali ke markas aku berdoa agar Tuhan membukakan pintu hati Ayahku. Agar Tuhan memberikan kesadaran kepada Ayahku bahwa aku ini anak kandungnya. Buah cintanya dengan Ibu. Aku masih berharap Ayah memaafkanku untuk saat ini.

Saat aku tiba dimarkas ternyata hati Ayah memang sekeras batu. Tak peduli aku ini anaknya atau tidak Ayah tetap menghajarku. Malam itu aku dihajar tanpa ampun. Cambuk meluncur bertubi-tubi tepat dipunggungku. Cambuk itu sukses melukiskan bekas yang indah dipunggungku. Setelah puas Ayah menghajarku. Ayah membirkanku tidur tanpa jatah makan. Tubuhku lemas. Sisa cambukan masih jelas terasa dipunggungku. Tetapi itu tak seberapa sakit daripada diperlakukan Ayahku sendiri layaknya hewan.

Setelah mendapatkan perlakuan seperti itu dari Ayah keesokan harinya aku pergi mengamen dengan tubuh terasa sakit dan perut terasa lapar. Dalam perjalanan ke tempat biasa aku mengamen, terbersit pikiran untuk kabur dari markas dan tubuhku menyetujuinya. Teman-teman yang melihat aku berjalan berlawanan arah dari tempat biasa mengamen bertanya aku akan ke mana. Aku hanya menjawab singkat bahwa aku akan pergi buang air kecil. Teman-temanku tak menaruh curiga kepadaku. Aku berhasil kabur.

Saat malam tiba, Ayah bertanya kepada teman-temanku ke mana aku pergi. Teman-temanku hanya menjawab tidak tahu karena memang mereka tidak tahu aku pergi ke mana. Ayah marah besar malam itu. Tetapi, aku tak peduli. Karena yang terpenting aku sudah berhasil kabur.

Setelah tiga hari aku kabur. Ayah berhasil menemukanku sebagai pelayan warung. Aku merasa telah pergi jauh. Tetapi, kenapa Ayah masih sanggup menemukanku? Saat melihatku, Ayah langsung mengahajarku ditempat. Para pengendara, orang yang sedang makan di warung, serta ibu pemilik warung melihat aku yang dihajar Ayah habis-habisan. Ibu pemilik warung dengan takut bertanya. Namun, dengan mudah Ayah menjawab bahwa aku adalah anaknya yang kabur dari rumah.

Setelah puas mengahajarku di tepi jalan, Ayah menyeretku pulang. Setelah sampai di markas, Ayah melemparku ke ruangan gelap nan pengap. Rasanya tubuhku telah mati rasa karena terlalu seringnya dihajar Ayah. Tapi darah dari tubuhku tak mau berhenti mengalir. Ayah pun mengancam anak-anak lain, dengan mengatakan bahwa siapapun yang berani kabur maka tanggung sendiri akibatnya. Ayah tak pernah main-main dengan perkataannya. Ayah juga memperingatkan agar teman-temanku yang lain menjuhi ruangan tempat aku disekap.

Setelah tiga hari Ayah menyekapku dalam ruangan gelap dan lembab tanpa jatah makan. Aku menulis sepucuk surat harapan. Aku menulis itu dengan sisa tenaga dan sisa rasa sakit ditubuhku. Surat itu aku tujukan untuk orang nomor satu negeri ini. Orang paling berkuasa dinegeri ini. Satu-satunya orang yang aku harapkan bisa menolongku dan teman-temanku. Suratku itu adalah untuk Pak Presiden.

Surat untuk Pak Presiden yang Bijaksana

Pak Presiden perkenalkan nama saya Aini. Saya seorang anak yang hidup dari jalanan dan untuk jalanan. Kehidupan saya jauh dari secercah cahaya kebahagiaan. Saya hidup di bawah tekanan dan penderitaan.

Pak Presiden yang bijaksana. Saat saya menulis surat ini. Saya menulis dengan tangan bergetar. Ditemani tangis sesenggukan. Dan punggung yang dilukis Ayah saya sendiri dengan cambuk. Darah saya seolah berhenti mengalir. Jantung ini memaksa untuk terus memompa darah dan udara agar tubuh ini tetap bisa bertahan. Saya hampir tak bisa membedakan ini tangis air mata atau tangis darah. Terlalu dalam luka tubuh ini, tetapi jauh lebih dalam luka hati ini. Terlalu dangkal harapan saya untuk kehidupan yang jauh lebih cerah. Saya seolah pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Saya terlahir di tanah pertiwi ini. Tetapi belum pernah merasakan keadilan dari bumi khatulistiwa. Bolehkah saya menagih hal itu Pak? Bolehkah saya menagih keadilan tersebut? Tentu boleh-boleh saja. Tetapi belum tentu Pak Presiden  akan menghiraukan. Terlalu banyak masalah dalam negeri ini. Terlalu sibuk Pak Presiden menyelesaikan masalah para bedebah negeri ini. Jangan salahkan kami. Jika suatu hari nanti negeri ini akan hancur. Karena memang aset berharganya telah dijajah negerinya sendiri. Betapa teganya negeri ini kepada kami anak-anak jalanan. Bukankah negara ini negara hukum? Tetapi mengapa keadilan hukumnya hanya untuk orang-orang beruang. Hanya untuk para bedebah negeri ini. Sedangkan kami rakyat kecil hanya menonton sandiwara negeri ini dan hanya sebagai korban hukum.

Kami hanya ingin mendapat keadilan sesuai dasar hukum kita. Kami ingin dipelihara oleh negara bukan ditelantarkan oleh negara. Datanglah kemari Pak Presiden! Lihatlah apa yang terjadi di sini ! Betapa kejamnya kehidupan di bawah sini!

 

Setelah menulis surat tersebut, Aku membentuknya menjadi pesawat. Aku menerbangkannya dari jendela kecil dipojok ruangan. Aku berharap surat tersebut diterbangkan angin dan sampai pada pemimpin negeri ini. Dan sungguh besar harapanku agar bisa kembali bersekolah dan bermain layang-layang bersama teman sebayaku. Semoga kelak ada keajaiban yang membuat hidupku lebih berwarna seperti sebuah pelangi yang muncul setelah hujan deras turun.

 

Related posts

Leave a Comment