Cerdas Menerima Hoax

Cerdas Menerima Hoax

By: Sutaman Isnaini, S.Pd.

Hoax merupakan sebuah kata yang saat ini sudah familiar bagi telinga masyarakat Indonesia. Dari segi terminologi, apakah Hoax itu? Pertanyaan ini menjadi wajar bukan kita tidak paham pengertian dari Hoax, tetapi  sebagai istilah yang relatif baru bagi masyarakat kemungkinan akan banyak persepsi yang berbeda tentang makna Hoax.

Hoax adalah sebentuk kebohongan. Sedangkan kebohongan merupakan masalah yang serius dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam Alqur’an, banyak ayat yang berisi ancaman Allah terhadap kebohongan. Salah satu sahabat rosul dalam pidato cedasnya mengatakan, “Kejahatan bagaikan rumah, setiap rumah pasti ada pintunya, dan pintu kejahatan adalah kebohongan.” Jadi, siapa yang berbohong hampir dapat dipastikan yang bersangkutan tersebut tergolong orang yang jahat.

Kalau kita jeli, kebohongan ternyata mempunyai kualifikasi bertingkat. Pertama, kebohongan yang jelas alias vulgar. Kebohongan ini mudah ditebak sehingga siapapun mudah tahu bahwa berita tersebut adalah sebuah kebohongan. Misalnya, pengacara Setya Novanto yang mengatakan bahwa kliennya kecelakaan sangat parah dan membuat mobil mewahnya hancur. Lalu, ada benjolan sebesar bakpao pada jidat Setya Novanto akibat benturan dengan bagian atap mobil. Kebohongan ini viral di media massa, tetapi masyarakat malah senang mentertawakan. Sebab, masyarakat tidak tertipu dengan berita tersebut.

Kedua, kebohongan yang berkelas. Kebohongan ini memiliki ciri-ciri yaitu rapi, pintar, dan sulit dideteksi. Misalnya, berita bergambar sekolah yang hampir roboh, siswanya lusuh dan tidak berseragam serta tidak mengenakan sepatu. Kemudian, berita yang bergambar tersebut menyertakan keterangan “Kondisi sekolah di sebuah desa wilayah Bogor yang dekat Jakarta.”  Di mana letak kebohongannya? Gambar itu ternyata diambil dari Kamboja yang secara fisik rasnya sama dengan kita. Si penyebar Hoax sengaja menyembunyikan papan nama sekolah. Alhasil, banyak orang tertipu itu dengan berita tersebut.

Dari ilustrasi di atas dapat disimpulkan bahwa untuk dianggap Hoax harus memenuhi beberapa unsur. Pertama, berita itu memang bohong alias tidak benar. Kedua, menyebar luas atau viral baik via media massa mainstream maupun sembunyi-sembunyi. Ketiga, banyak orang yang tertipu atau mengaggap berita tersebut benar.

Seberapa serius akibat dari Hoax? Mari mengingat peristiwa yang menimpa Pak Ahok.

Bapak Ibu jangan mau dibohongi pakai Almaidah bla …bla…bla ( fakta isi pidato Basuki Cahaya Purnama)

Bapak ibu jangan mau dibohongi Almaidah bla….bla…bal… ( hoax karya Buniyani dengan kreatif cerdas membuang kata pakai)

Peristiwa ini memberikan dampak yang begitu besar. Pak Ahok masuk penjara, sedangkan Buni Yani masih menunggu proses pengadilan.

Hoax sebagai sebuah perjalanan sejarah manusia akan sulit untuk ditiadakan, kecuali hilang dengan sendirinya dimakan trend yang lain yang lagi hits. Akibat berita hoax ini,  tidak sedikit orang yang diuntungkan atau malah memanfaatkan hoax untuk raihan ekonomi politik atau sekedar popularitas, lalu bagaimana kita harus bersikap?

Tidak terlalu sulit untuk menghadapi hoax. Dalam ilmu jurnalistik, kita mengenal azas “Cover both side.” Maksudnya, kita harus memandang dari berbagai sisi, tidak cuma satu sisi atau satu versi, Alqur’an memerintahkan kita untuk selalu melihat, mendengar, tabayyun dan berpikir sekaligus memperingatkan kita untuk tidak mengikuti “Hawa”  termasuk memegang erat persepsinya sendiri. Ingat!  “Words don’t mean ; people mean.”  Allah A’lam semoga bermanfaat.

 

Related posts

Leave a Comment