Bunga-bunga Dunia

Nama              : Intan Dwi Ambarwati

Alamat            : Dsn Wangi-Rt.003/Rw.010- Sumbaerejo-Pandaan-Pasuruan-Jawa timur.

No. HP            : 0895341646901

 

Bunga-bunga Dunia

Akupun pernah hidup didalam sana. Dunia kelam penuh kegelapan. Dunia bebas tanpa tekanan. Dunia dimana kebahagiaan menjadi kunci kehidupan, apapun dilakukan hanya untuk kebahagiaan.

Berbuat seenaknya demi kebahagiaan, teriak-teriak dijalanan, foya-foya demi meraih kepuasan batin, pun bergonta ganti pasangan agar menjadi idola akhir zaman. Ya, kalian tahu? Aku bahagia. Amat bahagia saat itu. Hingga kegelapan semakin mencekam, kehilangan arah jalan pulang, terluntang lantung sendirian. Merasa menderita tanpa bantuan seseorang.

Bahagia terengut dalam sekejap. Dibawa debu-debu berterbangan. Dibawa gelak tawa yang menggelegar, juga dibawa oleh euforia dunia.

Sampai dimana hatiku melemah, Bahagiaku enyah, jiwaku terengah-engah, hidupku musnah. Sendirian ditemani kegelapan. Merasa tak adil mengenai kehidupan, hingga menginginkan kematian.

Namun, entah bagaimana datangnya sebuah lentera temaram penerang gubuk kehidupan. Menerangi setiap ruang, Mengobati seluruh borok jiwa, membuat nyaman perasaan, hingga membangun kembali hati yang runtuh, memperkokoh setiap jengkal bangun supaya utuh.

Gelap yang meredup. Hingga kelam menuju terang. Lentera-lentera itu berubah menjadi cahaya terang. Menusuk dan merasuk tepat ulu hati yang membatu. Nafas tercekat, lalu dada mulai sesak. Semua kesakitan kembali terulang. Merasa menyesal pada kebahagiaan tak abadi.

Merekalah, pengubah hati. Penentram jiwa, pemberi kasih, dan penolong tanpa pamrih. Berkelakuan apik dan baik dengan tutur kata halus yang mendayu-dayu. Entahlah, bagaimana aku akan menjelaskannya, lebih baik kuceritakan saja.

 

***

Saat seluruh kawan dan sanak saudara menghilang, enggan diminta bantuan, hanya satu yang entah siapa namanya dengan senang hati mengulurkan tangan. Tersenyum dibalik kain hitam penutup muka. Menatapku ramah. Aku bingung, memangnya siapa dia? Kenal denganku pun tidak, malah sekarang ingin meraih tangan kotorku sebab tanah tercampur air hujan.

Matanya menyipit(aku kira saat itu dia tengah tersenyum), Bajunya tertutup, tangan kirinya membawa payung, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk kembali mengulurkannya padaku.

Dengan badan gemetar dan pandangan buram. Aku kembali menatapnya bingung. Enggan untuk meraih uluran tangannya. Namun beberapa saat itu juga, ia melepas jaket yang ia kenakan, kemudian menyampirkannya pada bahuku.

“Setidaknya kamu pakai jaketku agar dinginnya tidak terlalu.” Ucapnya lembut. Matanya menatapku sayu, terlihat tulus.

Aku mengangguk, lalu tersenyum lemah. Siapapun dia, dialah penolong pertamaku didalam kehidupan terpuruk yang pernah aku alami.

Bagaimana tidak? Hidupku kali ini serba tiba-tiba.  Rumah yang disita tiba-tiba sebab digadai oleh sahabat terbaik. pacarku yang tiba-tiba menghianatiku dan ikut andil dalam penipuan itu, juga jangan lupa pula tentang keluarga yang tak ingin menerima wanita macam sepertiku. Sudah dianggap aib keluarga, perusak rumah tangga, dan kotoran yang tak berguna.

“Mari ikut!” Dia kembali mengulurkan tangannya, “setidaknya kamu harus makan dulu” ucapnya riang.

“Siapa?” Aku bingung, tawarannya begitu meyakinkan karena nada bicaranya yang ramah dan riang. Dia kembali menyipitkan mata.

“Insyaallah, aku bukan seperti orang yang kamu bayangkan. Mari, badanmu gemetar, kamu pasti belum makan” ajaknya kembali dengan suara lembut.

Aku menatapnya dengan intens. Dari pakaiannya saja aku masih tetap tidak yakin. Serba Hitam-hitam seperti mau ke kuburan, belum lagi wajahnya, tidak kelihatan sama sekali kecuali kedua bola matanya yang terpancar aura positif. Namun, setelah berpikir dan menimbang, aku menganggukkan kepala, menerima uluran tangannya.

Terdengar gelak tawa kecil disana bersamaan dengan menyipitnya kembali matanya. Aku ikut tersenyum. Entah kenapa,  Melihat matanya dan mendengar gelak tawa lembutnya saja sudah membuatku tenang.

Tepat, dia bukan orang yang aku bayangkan. Terbukti dari dekorasi rumahnya. Banyak sekali tulisan-tulisan arab yang menentramkan, juga keluarganya yang ramah. Mereka nyambutku yang tengah gemetar dengan rasa kasih sayang, berkata dengan nada khawatir-walau bukan siapa-siapa-. Saat itu aku hampir menangis karena terharu dengan perlakuan mereka. Bahkan ibuku pun tak pernah melakukan hal menghangatkan seperti itu padaku. Tampilannya pun sama seperti dia yang menolongku, memakai pakaian hitam-hitam dengan penutup muka dan kepala.

Disana, aku mendapatkan rumah yang sesungguhnya. Mendapat kasih sayang tanpa kepura-puraan, mendapat perhatian tanpa meminta imbalan, dan yang paling penting, aku mendapat pengajaran tentang kehidupan.

“Kamu tahu kenapa aku memakai baju seperti ini, juga penutup wajah ini?” Tanyanya setelah beberapa menit lalu aku terus menatapnya yang tengah memasang penutup kepala dan wajah.

Seharian ini aku berada dikamarnya -maksudku, sudah numpang dirumahnya-. Semenjak insiden kehujanan disamping selokan, aku mulai mengenal beberapa agama-walau tak seberapa.

Ah iya, aku lupa menjelaskan pada kalian. Dia Rahma, penolong pertamaku dengan mata tulus dan tutur kata bagus. Matanya sering sejaki menyipit-entah karena tersenyum atau faktor lain. Yang pasti, aku suka menatap matanya yang teduh dan menenangkan itu. Gayanya sangat beda sekali dengan wanita zaman sekarang. Sopan dan sangat beraturan, tak ada sekalipun kulit yang ia tampakkan saat keluar.

Aku terkejut dengan pertanyaan itu, dia bahkan tahu apa yang aku pikirkan, dan mengerti tentang tatapan penuh keingin tahuan. lantas aku menggeleng untuk menjawab pertanyaannya.

“Karena didalam agamaku, aku diwajibkan untuk memakainya. Bukan maksud untuk membuat derita akibat hawa yang gerah, namun untuk melindungi diri dari syahwat dan nafsu lelaki yang hendak melakukan zina.” Dia kini menatapku. Tatapannya selalu tulus, matanya terlihat tersenyum-meskipun aku tak tahu jelas bagaimana raut wajahnya-.

“Zina?”

“Iya, zina. Kamu tahu kan arti zina?” Tanyanya sembari menghampiriku, lantas duduk didepanku.

Aku mengangguk, kemudian menjawab, “lantas kenapa memangnya? Toh ada juga laki-laki yang menjaga kita, dan mengayomi kita. Bukankah itu berlebihan? Menutup seluruh tubuh, rambut, dan apalagi itu!” Aku menunjuk kain hitam yang kini ia pakai diwajahnya. “Menutup wajahmu. Lagipula, sebenarnya kamu itu cantik. Bibirmu kecil dengan hidung mancung juga pipi yang terlihat memerah. Hei, kamu tidak berdandan kan?”

Dia tertawa kecil, tangan kanannya reflek menutup mulutnya agar gelak tawanya terkendali.

“Kamu bisa saja. Tentang dandan, Aku tidak pernah berdandan Ra. Suamiku masih belum diketahui namanya, pun tak diketahui dimana, untuk apa aku berdandan jika aku belum tahu dirinya? Ra, jika kamu ingin berucap “toh nanti kamu tahu, tidak harus sekarang, kita harus mencari” itu sungguh ucapan salah, Ra. Wanita tak semestinya mencari, wanita tak semestinya berlagak mendominasi.”

“…Jika diandaikan, Wanita itu layaknya Rembulan, lelaki itu matahari.  Sinarnya tak sepencar, dan tak setegas matahari. Rembulan sinarnya teduh, menenangkan, menentramkan, dan memberikan kenyamanan. Siapa yang kita beri kenyamanan? Suami kita kelak, Ra. Kita teduhkan, kita tenangkan. Pulang kerja, kita sambut dengan wajah riang. Kita tanya dengan suara indah, lembut dan yang paling penting, penuh kasih sayang.”

Aku ternganga dengan kejelasannya. Matanya kembali menyipit. Luka-luka masa lalu kembali menganga. Menampilkan diriku yang penuh dosa, mengingatkan kelakuan-kelakuan terlampau salah.

“Ra, hakikat menutup dalam Islam itu bukan asal menutup tubuh, Ra. Menutup dalam islam itu menjaga, dan mencegah. Menjaga hal yang harus dijaga, dan mencegah hal yang membuat masalah. Apa yang harus dijaga? Tubuh kita Ra. jiwa kita, raga kita, nafsu kita, dan yang paling penting hati kita.” Ia menyentuh dadaku lembut. Begitupun matanya. Menyorot kasih sayang, dan kelembutan.

“…tak apa jika tangan kita terluka. Tak apa jika lutut kita tergores sebab jatuh walau sudah dewasa. Pun, tak apa jika dahi kita yang berdarah. Tak apa Ra, apapun itu tak apa.  Tapi untuk hati..” ia menggeleng perlahan “jangan main-main dengan Hati Ra, jangan. Hati sekali rusak, maka tak bisa diobati. Hati sekali hancur, maka tak bisa seperti semula lagi. Hati, jika terusik sedikit, maka menyesal lah nanti. Hati kita seperti kertas putih. Kamu pasti tahu cerita tentang kertas putih bukan?”

Aku mengangguk lemah. Ia mengelus pelan pundakku. Lantas melanjutkan.

“Hati itu seperti kertas putih, sekali tercoret, tak kan bisa dihapus lagi. Sekali di nodai, tak bisa bersih dan utuh kembali. Ingatlah, Ra. Apalagi wanita itu di anugrahi kelembutan hati, sekali kamu bermain-main dengan hati, maka Hatimu tak bisa seputih dan sebening berlian lagi.”

Kali ini ucapannya kembali membuat dadaku sesak,  kata-katanya bagai melilit rongga paru-paru, juga menusuk ulu hatiku. Perkataannya amat benar. Aku telah menodai hatiku. Kebahagiaan itu menjadi penyakit yang menetap dan membuat candu. Perlahan lahan merusak akal pikiran, menabur hama yang merusak seluruh jiwa lalu membusuk secepatnya. Tak kenal ketulusan hati, dan tak kenal kebaikan seseorang lagi.

Air mataku mulai mengucur. “Sebanyak itukah dosaku Ma? Hatiku sudah pekat Rahma. Sungguh pekat. Kelam. menghitam. membusuk. Hancur. Tak dapat diperbaiki lalu mati. Sudah mengecil, mengkerut bagai timun basi. Pahit bagai empedu. Telah sirna. Enyah”

Dia menghapus titik air mata dipipi. Menatapku penuh arti. Lalu berbisik dengan suara lembut dan sayu.

“Zahra, kamu wanita. Wanita mempunyai sembilan perasaan dan satu akal. Hati wanita diciptakan sekuat baja, seluas samudra, setegas merah, dan selembut kain sutra. Kamu tahu kenapa?” Aku menggeleng, air mataku masih tak terbendung. Tetap mengalir deras. Semua kata yang diucapkan olehnya seperti pisau yang menusuk jantung, mulai mencacah setiap senti ruangnya.

“…Karna Allah memuliakan wanita, Zahra. Saat kecil,  Allah  membuka pintu surga untuk ayah. Pun saat dewasa kelak, Allah membuka pintu surga ditelapak kaki untuk anak-anaknya. Wanita merupakan keindahan Ra. Wanita bisa saja seberani banteng marah, pun bisa selemah kupu kupu yang baru bermetamorfosa. Tidak ada hati yang pekat jika kamu mau berbenah dan pulang menuju jalan-Nya. Tidak ada hidup yang kelam kecuali kamu ingin berusaha mendekati-Nya. Ingatlah, kamu itu wanita Ra, Wanita kuat.”

“Tidak Ra, aku tak akan diampuni oleh Allah.” Aku berhenti sejenak. Nafasku tercekat. Membuat suaraku tertelan oleh sesak yang amat berat. “Aku sudah kotor Ma, badanku, hatiku. Semua yang berada didalam diriku. Kotor.”

“…jiwaku keruh. Tulang-tulangku menghitam, darahku  pekat seperti tinta, dan hatiku kelam seperti malam-malam mencekam. Bagaimana Allah bisa mengampuniku Ma? Bagaimana Allah sudi memaafkan aku yang sejatinya pendosa berat? Allah akan murka Ma, Allah akan Marah! AKU PENDOSA!”

Entah sebab apa, kali ini suaraku membesar. Dadaku naik turun karena nafas sesak. Dan hatiku kembali sakit mengingatnya. Tentang aku yang lupa diri, tentang vodka yang kuteguk sampai berhari-hari, tentang rambut yang kuurai, tentang ibu yang ku bentak selama hidup di dunia, tentang prilaku yang sungguh memalukan keluarga, tentang tutur kata yang tak pantas, tentang tempat yang kukunjungi setiap malam, dan yang terakhir kali, tentang perbuatan yang kulakukan. Sebuah dosa besar, tak akan dimaafkan.

“YA ALLAH… Zahra, apa yang barusan kamu katakan” ia segera memelukku yang tengah merintih. Menangisi setiap dosa yang kulakukan. “Allah akan memaafkan dosamu walau sebesar gunung dan seluas samudra, akan selalu memaafkan Zahra. Selalu” dia mengelus punggungku yang bergetar. Air mata ku tak cukup untuk menangisi semua dosaku. Terlalu banyak dosa-dosa yang kulakukan.

“A..aku su..dah tidak suci Rahma..”ucapku lirih dengan nada mengiris. Akankah Allah memaafkanku?.

“Kalau begitu, nanti pagi mari kita pulang. Mengadu semua yang kamu rasakan, meminta apa yang kamu minta, juga mengucap maaf sebanyak yang kamu inginkan. Hm?” Suara Rahma melembut. Ia menatapku, kemudian kemudian kembali memelukku. Aku mengangguk, tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain menuruti perkataannya agar Allah Memaafkan.

Semua terasa lancar, tak ada hal berat kalau ada niat. Tak hal susah kalau kita mengawalinya dengan Bissmillah. Semua terasa indah jika dijalani sepenuh hati. Dan malam ini, aku menyerahkan diri. Seluruh hatiku, sepenuh jiwaku, semua ragaku. Meminta maaf karena kekhilafan yang aku lakukan.

“Ya Allah, Engkau-lah Tuhanku, Tiada Tuhan selain Engkau. Engkau-lah yang menciptakan aku, dan aku-lah hamba-Mu. Aku penuhi janjimu selagi aku mampu, aku kembali padamu dengan membawa nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku. Pun Aku kembali kepada-Mu dengan membawa dosa yang telah aku perbuat. berilah ampunan padaku Ya Allah.. karena sesungguhnya hanya Engkau-lah yang berkenan mengampuni segenap dosa”

Air mataku perlahan mengucur. Hatiku kembali tersayat ingatan-ingat dosa yang telah ku lakukan.

“Ya Allah.. jika Engkau tidak mengampuni, dan menyayangiku. Sungguhlah aku benar-benar orang yang merugi lagi orang yang tak pantas walau hanya sekedar berhadapan denganmu. Ampuni aku Ya Allah, sungguh ampuni aku..”

Aku bersimpuh, meminta ampunan dosa, dan terus menyerukan namanya.

“Ya Allah yang Maha Agung. Ya Allah yang Maha pengampun. Ya Allah yang maha pemberi kelapangan Dada. Aku inginkan fitrah-Mu, aku inginkan ampunan-Mu, sungguh akulah pendosa besar, maafkan aku..”

Luka itu menganga, menampilkan banyak rasa kecewa. Kecewa terhadap diriku, kecewa terhadap kelakuanku, dan kecewa sebab keterlambatan maafku. Aku malu. Jika diharuskan bersimpuh meminta maaf, dan terus menangis pun aku malu. Terlalu banyak kesalahan yang kuperbuat, pun terlalu sekali hati yang baru menyadari. Selanjutnya inilah aku, wanita yang ingin kembali ke jalan-Mu. . .

***

Cahaya itu menyilaukan mata. Didepan sudah banyak muslimah-muslimah yang hadir dengan cuma-cuma. Ingin tahu bagaimana caranya aku kembali ke jalan-Nya. Dengan wajah yang bersinar dan mata yang menyorot ketenangan, meraka menatapku penuh dengan rasa ingin tahu.

“Allah akan memuliakan wanita yang ingin berhijrah, Allah akan menjadikannya sebagai bidadari dunia. Allah menjanjikan kebaikan bagi kita yang berhijrah. Wanita yang baik, berakhlak baik, pun bertutur kata lembut akan menjadikannya bunga-bunga dunia. Manis dikecup, sedap dipandang, ketika dicium harum semerbak bunga mawar.”

Aku menatap mereka satu persatu, terutama sahabatku disana. Ia tersenyum dibalik niqab yang dipakainya. Luar biasa tenang menenangkan tatapannya. Hati mulai terasa aman, lantas mulai melanjutkan.

“Jagalah hati kalian wahai Muslimah, jagalah pandangan untuk masa depan. Dulu kita memang pendosa, masa lalu  kita buruk, bahkan sangat buruk. Melalaikan sholat, melakukan maksiat, Masya Allah.. jika kita bisa kembali pada waktu, maka ku urungkan niat maksiat, lantas berbuat baik dan memperbaiki akhlak.

“.. jangan terlalu dibawa masalah dunia. Jangan terlalu risau jika masalah belum usai. Jangan dipaksa jika bukan takdir lillah. muslimah, kita ini seperti bunga. Kuncupnya mulai merekah, lebah-lebah mengecup manisnya kita, lalu habis lah manis. Mulai kuyu dan layu. Hukum Alam, tak bisa di tolak, pun tak bisa ditebak. Tak ada yang mengetahui jalannya hidup kita. Kita bisa saja tiba-tiba mati di tengah penyerbukan, atau tiba-tiba membusuk sebab hujan.”

“…mulai membenahi diri muslimah. Tak perlu menjadi bunga, tanamkan berlian dihati kita. Jadilah muslimah bunga-bunga dunia.” Aku menarik nafas, sejenak menatap mereka yang mulai mengangguk perlahan, “baiklah, sekian dari saya. Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh”

Lalu cahaya itu berpendar, berpindah menuju hati yang kelam. Menggelitik disetiap jengkal. mengetuk hati yang tertutup, kemudian menelisik sukma dengan berbisik. Dan jadilah diriku. Memang, aku bukan wanita sempurna, bukan pula wanita semulia Khadijah, bukan wanita yang memiliki ketaqwaan seperti Aisyah, pun ketabahannya seperti Fatimah. Hanya saja, aku wanita akhir zaman yang menginginkan hati seperti mereka melalui hijrah.

 

Related posts

Leave a Comment