Belenggu Sang Srigala

Belenggu Sang Srigala

Aku wanita berusia 21 tahun. Saat ini aku merupakan salah satu kader dari partai politik yang sedang berkembang dan menjadi sorotan para warta. Aku sudah hampir satu setengah tahun berada di parta ini. Aku lulus lebih cepat dari teman-teman seangkatanku. Itu karena aku bekerja keras untuk itu dan aku masuk jurusan yang memang sesuai dengan passionku. Aku lulus dengan cumlaude dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada. Tesis yang aku kerjakan sangat menarik partai politik tempatku bernaung saat ini. Sehingga sebelum aku wisuda partai ini sudah menawariku untuk bergabung dengan mereka. Tentu saja kesempatan itu tidak aku tolak. Kesempatan ini aku jadikan sebagai batu loncatan untuk kerierku kedepannya.

Selama satu setengah tahun bergabung dengan partai politik aku sudah mendapatkan banyak pengetahuan, banyak pengalaman serta banyak kenalan orang-orang pemerintahan. Aku juga menjadi salah satu aktivis yang menyuarakan betapa pentingnya politik untuk wanita. Betapa berpengaruhnya wanita terhadap politik. Aku juga selalu mengkampanyekan gerakan wanita berani berpolitik. Entah kenapa berada di dunia politik yang banyak dianggap orang runyam malah membuatku tenang. Aku merasakan politik adalah jiwaku, politik adalah duniaku. Aku meyakini jiwa politik yang tertanam kuat di hatiku adalah buah dari apa yang telah ditanamkan Papaku. Yups benar, Papaku adalah orang yang bekerja di dunia politik dan pemerintahan. Papaku adalah anggota DPR. Tetapi itu dulu, sebelum semua mimpi buruk itu terjadi.

*****

“Papa hari minggu besok kita jalan-jalan yah Pa, udah lama kita ngga jalan-jalan”.

“Princess, hari minggu besok Papa ada rapat jadi Papa gak bisa”.

“Yah Papa, kita kan udah lama ga jalan-jalan bertiga. Ayoo dong Pa nilai ulangan PKN ku kemaren kan bagus, masa iya ga jalan-jalan”. Jawabku sambil cemberut.

Aku melipat tangan di depan dan memalingkan wajahku dari Papaku.

“Yaudah Papa usahain ya Princess”.

“Beneran Pa??”. Jawabku dengan mata berbinar bahagia

“Iya Princess kesayangan Papa”.

Setelah puas dengan jawaban Papaku, aku dan Mama langsung masuk ke kamarku di lantai dua rumah kami. Kamarku yang di dominasi warna merah dan putih menandakan betapa keluarga kami memiliki rasa nasionalisme yang tinggi.

Pada hari minggu pagi aku bangun tidur dan langsung menuju ruang makan.

“Ma, Papa mana?”.

“Papa kan udah bilang kalau hari minggu ini Papa ada rapat”.

“Loh Ma, Papa kan mau usahain buat kita jalan-jalan hari ini”.

“Iya kita tetep akan jalan-jalan. Nanti kamu sama Mama berangkat dulu, begitu Papa selesai rapat Papa bakal langsung nyusulin kita. Yaudah kamu sarapan dulu habis itu mandi terus siap-siap”.

“Siap Komandan”. Jawabku seraya meletakkan empat jariku tepat diatas alis mataku.

Hari itu aku dan Mama berangkat terlebih dahulu dengan diantar Mang Ujang sopir keluarga kami. Setelah sampai Mang Ujang langsung kembali kerumah karena nanti aku sama Mama bakalan pulang bareng Papa.

****

Keluargaku adalah keluarga yang harmonis. Semuanya berjalan sempurna. Sampai suatu saat muncullah sebuah masalah yang membuat keluargaku berantakan. Papaku yang merupakan anggota DPR dicurigai melakukan praktik korupsi yang merugikan negara sebesar 450 miliar rupiah. Aku sungguh tak percaya akan hal itu. Aku tau Papaku adalah orang yang jujur dan amanah. Tidak mungkin Papa mengotori tangannya dengan uang rakyat tersebut.

Tetapi apa hendak dikata hasil persidangan menyatakan bahwa Papa melakukan praktik manipulasi uang rakyat. Mama menangis histeris tak rela suami tercintanya harus mendekam di dalam bui selama tujuh tahun. Selain hukuman bui semua aset Papa juga ditarik negara sebagai uang denda. Pada akhirnya aku dan Mama memutuskan pindah kerumah Eyang di Jogja.

Setelah sekitar tiga bulan Papa tinggal di bui, ada kolega Papa yang mendatangi Mama kerumah Eyang. Waktu itu aku baru pulang sekolah dan langsung duduk karena Mama menyuruhku bergabung dalam percakapan itu.

“Jadi maksud kedatangan saya kesini ini hanya mau menyampaikan sesuatu”.

“Iya ada apa Pak Handoyo”. Jawab Mama.

“ Jadi sebenarnya Pak Bambang ini tidak pernah sepeserpun memakan uang rakyat”.

“Maksudnya Pak?”. Tanyaku sambil mengerutkan alis.

“ Iya jadi Pak Bambang tidak pernah korupsi. Ada orang yang sengaja menggulingkan Pak Bambaang  karena tidak sesuai dengan program-program Pak Bambang yang menurut orang tersebut tidak memiliki ruang untuk memungut uang rakyat. Jadi Ibu Diana dan Dek Alea, Pak Bambang tidak pernah sepeserpun memakan uang rakyat. Pak Bambang tak pernah sedikitpun meninggalkan amanah rakyat”.

“Lantas kenapa Pak Handoyo tak membela Papa dalam persidangan? Kenapa Pak Handoyo diam saja? Kenapa Pak Handoyo hanya menjadi penonton atas ketidak adilan ini!”. Aku menjawab dengan air mata yang sudah ada di pelupuk mata.

“Maaf Dek Alea, maaf Bu Diana. Kami orang-orang yang berjalan selaras dan seirama dengan program Pak Bambang tak memiliki bukti yang cukup kuat untuk menangkis tuduhan dari pihak tersebut. Mohon maaf saya dan teman-teman benar-benar menyesal”.

“Kalau saya boleh tau siapakah orang itu Pak?”. Mama bertanya dengan nada kesedihan yang berusaha ditahannya.

“Orang tersebut merupakan teman dekat Pak Bambang sendiri Bu, kalian pasti tak akan menyangka bahwa orang ini yang menggulingkan Pak Bambang. Orang itu adalah Pak Basuri”.

Aku langsung tercengang mendengar perkataan Pak Handoyo. Dalam hati aku bersumpah tak akan ada ampun untuk srigala baidap itu.

Berhari-hari bahkan berbulan-bulan aku memikirkan apa yang disampaikan oleh Pak Handoyo. Sampai akhirnya aku membulatkan tekadku untuk masuk kedalam arena “pertarungan” negeri ini.

Setahun setelah itu aku lulus dari SMA dan langsung masuk ke FISIPOL UGM jurusan politik. Aku tak pernah menyia-nyiakan waktuku selama kuliah. Selain mendapat pelajaran di kampus aku juga banyak dibantu Pak Handoyo. Beliau banyak memberiku informasi. Dari informasi-informasi tersebut aku mulai mempelajari bagaimana sebenarnya politik di Indonesia ini berjalan. Bagaimana “pertarungan” yang sebenarnya terjadi di dalam sana.

Berkat usaha keras akhirnya tak sampai empat tahun aku sudah berhasil di wisuda dengan predikat cumlaude. Sebelum aku di wisuda pun aku sudah diajak bergabung dengan salah satu partai politik. Akhirnya aku menyetujui karena kami memiliki visi dan misi yang sama.

*****

Setelah hampir dua tahun di partai tersebut akhirnya aku mendapat apa yang menjadi tujuanku. Aku menjadi salah satu pengisi kursi DPR dari partai pengusungku. Program-program Papaku aku susun ulang dan aku perbaiki untuk aku ajukan dalam rapat komisi. Banyak anggota komisiku yang setuju tetapi tidak dengan satu orang ini. Orang yang telah menjebloskan Papaku kedalam bui. “kau ini pandai juga ya, sama sepeti papamu” sergahnya suatu ketika saat keluar dari ruang rapat. Aku sontak kaget tak menyangka orang tersebut masih ingat bahwa aku adalah anak dari kolega yang telah dia sungkurkan dari kedudukannya. Aku geram melihat raut muka tanpa dosanya. Aku serasa ingin membedah dadanya apakah masih ada “hati” di dalamnya.

Setelah hampir satu setenggah tahun duduk di kursi DPR-RI akhirnya aku menemukan bukti kebusukan Pak “srigala” Basuri. Kebusukannya ini berhasil mengantarkannya ke ruang persidangan. Dan membebaskan Papaku dari belenggu fitnah seorang srigala.

Pada akhirnya aku berhasil mengembalikan kehangatan keluargaku. Aku berhasil mengembalikan kecerahan di mata Mama. Aku berhasil membuat Papa kembali bisa memeluk Mama sepuasnya. Mama dan Papa memutuskan untuk tetap tinggal di jogja, menikmati kota budaya di ujung senja usia mereka.

****

Keberhasilan setiap programku serta keberhasilan setiap usahaku menghapus kecurangan di gedung wakil rakyat mengantarkanku pada posisi tertinggi di DPR-RI. Aku di sumpah di bawah ayat suci al-qur’an, di depan burung garuda dan di hadapan para tamu undangan. Dengan dilantiknya aku menjadi Ketua DPR-RI tercapailah impianku, terjawablah setiap air mata dalam sujudku dan tersenyum dengan bangga Mama dan Papaku.

Dengan begini bukan berarti tugas telah usai, bukan berarti bertambah ringan pekerjaan. Ini semua berarti tanggung jawab bertambah besar dan aku berharap gerbang menuju kemakmuran rakyat semakin terbuka lebar. Setiap kepercayaan rakyat aku berusaha untuk menggantinya dengan keringat, pikiran dan tanggung jawab. Harapan terbesarku atas negeri ini adalah kemakmuran rakyat dan “keindahan” politik.

By: Erlita Diah Salsahbila

Related posts

Leave a Comment