BBQ

BBQ

 

“Gerimis yang tak berirama mendayu dayu mengetuk hatiku. Aku merasakan air mata meruah dari mataku. Meski tak kurasa-kan basahnya. Aku menangisi diriku. Aku menangisi kelalaianku, dan semua keadaan yang menderahku. sebegitu jelekkah diriku di mata makhluk yang jauh lebih rendah dariku? sebegitu rendahkah diriku di mata makhluk yang tak punya perasaan, nafsu, bahkan napas itu?”

Aku mengatakan kalimat itu kepada lembaran kertas yang mulai menguning, pada pena di ujung penghabisan tintanya, pada kota seoul di musim saljunya. Tiga tahun lebih setelah kejadian itu. Tiga tahun lebih setelah hari bahagiamu dan dia. Saat ketika aku harus membawa diriku begitu jauh mengembara. Aku pontang-panting di kota asing. Mencari hal dari diriku yang tak lagi kukenali waktu itu. sebab seseorang yang ku kira sepenuh hati mencintaiku ternyata sedang mengatur masa depannya dengan seseorang yang baru.

“berhentilah mengotori hatimu, berhenti mencambuk lebih keras pada perasaanmu, hidupmu tak berhenti saat orang yang kau cintai lari dan pergi, berhentilah mencaci dirimu sendiri “. aku merasakan kertas itu menjawab, mengerti akan keluh kesahku selama ini.

Aku masih ingat hari itu. Aku memilih berlari meninggalkan kota kelahiranku. Membawa separuh hati yang ku rasa masih utuh. Merelakan semua rasa yang kamu hancurkan tiba-tiba. Ini bukan hanya sekedar patah. Kamu porak-porandakan semua tata dalam dada. Aku pergi hanya membawa luka. Semua kenang bukan hanya telah ku tinggal, aku buang dan tak akan lagi kubayang.

Kala itu, aku paham sesuatu. Bahwa apa yang dimiliki hari ini tak selamanya menetap dan berhenti.Meski aku patah terkapar, Tuhan punya rencana lebih besar lebih luas dari apa yang kita impikan, aku kini belajar ikhlas, apa lagi yang harus aku lakukan? Toh. dia sekarang udah bahagia! atau mereka telah berdiri dengab haluan beda? ku rasa tidak perlu memikirkan seseorang yang telah beramah-tamah tetapi menyimpan pisau yang haus darah.

###

Pagi di musim Salju ini, aku ingin pergi ketempat Little Tin drums di Seoul Gangdong-gu, SeoNae-dong 548-3. sedang ingin sekali makan BBQ. pasti akan sangat menyenangkan dan membunuh sementara sesak dalam dada. buku kecil berwarna Blackpink dengan pena hitam tersanding dengan tangan kanan. Mereka tidak pernah tertinggal. tidak ingin terkapar seperti yang sudah sudah.

Hari yang dingin di kota Seoul. Aku memakai celana Kulot warna biru Muda dengan atasan tebal biru tua, dan sebuah kerudung bergo tali warna biru muda. Sepatu putih dengan hak sedikit tinggi terpasang nyaman di kaki.

Aku mulai melangkah masuk di Cafe milik Park Shin Hye, mencari tempat duduk dan memesan sebuah BBQ sesuai keinginan ku sebelum berangkat ke sini.

Wahai hati yang rapuh, tabahkanlah hatimu kau berhak menangis. Diam-pun kau berhak. Tapi sadarkah kau hati, tenggelamnya matahari selalu menuai senja yang sempurna, terbitnya matahari selalu menghadirkan sinar yang sempurna. Tetaplah hidup, tenang, damailah apapun situasinya, karena pada dasarnya cinta hanyalah fitrah. Jika nantinya kau dipertemukan dengan dia yang kau sebut sebagai cinta. Bersyukurlah.

Kalimat itu leluasa terukir di atas kertas putih dengan pena hitam yang hampir habis. 12 menit aku menunggu pesanan tak kunjung tiba, ku putuskan untuk memanggil kembali pelayan.

“yeogiyo Je!!” aku memanggil temanku, dia pemilik di cafe ini. dia menatapku dan menghampiriku

“aku tadi memesan BBQ dari 15 menit lalu!” jelasku

“mohon maaf atas pelayanan kami, akan segera saya bawakan pesanan anda!” dia selalu seperti itu. selalu formal di tempat kerjanya, namanya song jae rim. tapi aku selalu memanggilnya Je. Dia orang islam, yah aku tau. karena dia bilang. Dia yang cerita.

satu menit, lima menit, delapan menit. Aku sangat merasa perutku sudah tidak mau lagi berkoordinasi dengan waktu. yahhhh tepat 10 menit pesanan datang. Je membawa makanan ku dan seperti biasa menemaniku sampai titik penghabisan BBQ yang lezat ini. mengobrol tentang apapun sehingga sejenak saja aku lupa dia. ahhh dia lagi dia lagi… aku bosannn. ingin sekali ada tambatan hati yang tidak akan pernah menorehkan luka.

“syah… jangan pulang dulu, habis ini aku anter. 30 menit lagi gue mau pulang. kamu mau nunggu kan?” ada apa…. dia gk pernah seperti ini..

“emmm… o. oke Je”

###

“Fisya…!” aku menoleh ke arahnya, tepat di matanya. entah kenapa. aku merasa aneh.

“3 tahun lalu saat lho pertama kali datang ke cafe ini, saat kamu memesan BBQ seperti yang sudah sudah, detik itu juga. aku menaruh hati pada kamu sya…!” lanjutnya… dengan tatapan mata yang masih menerobos ke ruang hati.

(Ya allah… ampuni, yang telah dengan sengaja menatap mata seseorang yang belum halal untukku)

“sya… jika kamu mau! aku ingin kamu mengisi kehampaan hatiku sya.?” kali ini aku memalingkan wajah, takut saja. hanya itu.

“jika kamu serius, aku mau. aku masih takut. rasa sakit waktu itu saja masih kadang hampir di celah celah bahagia. aku takut tidak dapat membedakan lagi mana ketulusan mana kebusukan. ajari aku untuk kembali percaya, bahwa tidak semua sama. Tolong dengan sangat!” aku merasa dia berbeda, tidak sama seperti yang pernah ada dalam dada. akhirnya aku memilih pasrah, dan mengawali cerita cinta dengan orang yang berbeda.

-SELESAI-

 

by Safila Cahaya Restia

Related posts

Leave a Comment